Gibran Bukan Anak Gadget



Jumat, 16 November 2018 sekitar pukul 10.30 WIB...

Yang terjadi tadi agak bikin saya tertohok hmmm apa ya bahasanya, ya intinya sikap anak saya tadi sangat menohok saya
dan saya merasa ditegur atau dihukum sama anak sendiri.
Tapi sebelum itu, saya mau ceritain sedikit perjalanan Gibran hingga dia bisa protes. Ya, kurang lebih ekspresi saya saat "dihukum" Gibran seperti gambar beruang di samping tulisan ini, datar!
----------

Usia Gibran saat ini sudah menginjak 1 tahun 3 bulan.
Milestone yang sudah ia raih antara lain :

#Tumbuh Gigi

8 gigi sudah Gibran punya sampai saat ini. Sekitar usia 10bulan, giginya lah yang lebih dulu menunjukkan perkembangan dan memberi tanda "aku sudah besar loh, Ma" . Mungkin Gibran dan didukung oleh tubuhnya, punya keinginan dan tidak sabar untuk bisa makan berbagai makanan seperti orang dewasa. Rasanya, ia ingin mencoba dan mencicipi berbagai rasa dan tekstur makanan dari yang cair seperti bubur, empuk seperti buah pisang sampai kerupuk yang keras hingga ayam goreng yang agak sedikit alot.

#Berjalan

Oh iya, ada yang terlewat.
Sebelum tumbuh gigi dan berjalan, di usia 9 bulannya Gibran merangkak lebih dulu. Agak khawatir sebenarnya, karena ia baru bisa merangkak di penghujung usia 9 bulan. Saya kira Gibran akan melewati fase ini alias tidak merangkak dan langsung berjalan. Fase merangkak berjalan hingga usia Gibran menjelang 12 bulan atau 1 tahun.

Di penghujung usia 11 bulannya, Gibran sudah menunjukkan langkah-langkah kecil dari kaki mungilnya. Tepat di usia 1 tahun, Alhamdulillah Gibran sudah berjalan lancar.


#Bicara

"MaaMaaa"(Mama), sebenarnya saya ingin dipanggil Ibu tapi kata pertama yang keluar dari Gibran adalah Mama, panggilan untuk aku.

 "Mam emmaam"(makan), "MaMiii Mii"(Mami, kalau di bahasa Indonesia maksudnya Bibi, bahasa sunda maksudnya Uwa dan dalam bahasa Jawa maksudnya Bude), "Nyenyeen" (nenen), "pam pam"(mandi, maksudnya "para pam pam" yaa lagu iseng kalau lagi keramas).

Agak khawatir memang, tapi berdasarkan cerita Mama saya bahwa ternyata saya pun dulu mengalami telat bicara, baru bisa bicara dan mengeluarkan banyak kosakata di usia kurang lebih 2 tahun. Saya berpikir mungkin ini keturunan ya dan semoga Gibran pas umur 2 tahun juga sudah menguasai banyak kosakata yaa atau bahkan sudah lancar bicaranya, amiin.

Gibran memang baru sangat sedikit menguasai kosakata, tapi bukan berarti dia belum mengenal atau memahami sesuatu baik nama benda, orang yang dia kenal ataupun perintah. Dia sudah paham jika diminta untuk membawakan buku ke Eninnya (nenek). Dia juga sudah paham, kalau diminta untuk naik ke atas tempat tidur karena sudah waktunya tidur. Dia sudah paham dan tahu letak kamar mandi dan langsung menuju kamar mandi saat ia disuruh mandi.

Dan dia juga sudah bisa protes!
ini dia nih...

----------

Sebenarnya kami sebagai orang tua, tidak terlalu menggalakkan gerakan "anti gadget" pada anak, boleh pegang gadget atau sesekali lihat tapi hanya untuk kamera atau liat foto album yang itupun
isinya kebanyakan foto dia semua. Kebetulan, saya dan suami memang sepakat untuk membatasi penggunaan gadget pada anak. Sejak bayi, Gibran hampir tidak pernah kami kenalkan dengan nonton video atau mendengarkan musik di handphone atau televisi. Seringnya kami membacakan buku pada Gibran, akhirnya perlahan-lahan tanpa disadari Gibran menjadi terbiasa dengan buku dan ternyata anaknya juga suka dengan buku.

Gibran menginjak usia 12 bulan, mulai kami kenalkan dengan screen time yaitu dengan cara menonton video edukasi atau lagu anak-anak berbahasa Indonesia dan Inggris. Kami berikan aturan kapan Gibran bisa screen time dan berapa lama durasinya. Karena kebiasaan inilah dan semakin meningkatnya kecerdasan dan kepekaannya yang sudah mulai berkembang. Gibran mulai bisa protes.

----------

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, pernah terjadi beberapa kali dan mungkin hampir selalu.
Gibran selalu protes dan marah ketika ia sedang asyik bermain dan membaca buku kalau saya menemaninya tetapi sambil bermain handphone (sungguhlah ini bukan contoh yang baik, saya pun sadar sebenarnya saat itu). 

Dengan bahasa bayinya, Gibran menunjuk buku yang sedang ia baca "aa aaa hmm maaa...", ia terus menunjuk bukunya sambil memanggil saya. "Sebentar yaa, sedikit lagi." , "ah ahh huuu huu uuu" Gibran sudah mulai kesal.

Kemudian, dia ambil lah handphone saya lalu keluar kamar sambil melambaikan tangannya (da daaah) dan ditaruhlah handphone saya di atas sofa ruang keluarga. Saya pun salut sama dia, dia cerdas tapi saya menertawakan diri saya sendiri.

 "Oke Gibran. Yuk kita baca buku lagi. Mama janji engga main HP lagi deh. Yuk baca buku lagi yuk!"

Lalu, masuklah dia ke dalam kamar sambil membawa HP saya dan ditaruhnya di atas tempat tidur. Diambilnya buku cerita lagi dan akhirnya kami membaca buku. Gibran menunjuk setiap gambar yang ada di dalam buku ceritanya, seolah-olah berkata "ini apa Ma?", "Kalau yang ini apa, Ma?".

Kalau masih sabar, Gibran akan mengambil HP saya dan menaruhnya pelan-pelan. Tapi, kalau dia kesal dia akan mengambil HP saya lalu dilempar. Karena itulah, dalam 1 tahun ini saya 2 kali ganti HP.😂 Abinya kena sasaran 

Sungguhlah yang seharusnya diberikan jadwal screen time itu adalah orang tuanya dulu. 

Maafkan Mama ya, nak.






Love, 


Fitri "Mama Gibran"

Author

Fitri Nur Ardiantika Fitri Nur Ardiantika karena menjadi seorang Ibu harus meredam ego, emosi dan nafsu sendiri untuk kualitas hidup terbaik sang anak.

Post a Comment