Apakah Ini Baby Blues atau Kurangnya "Bonding" antara Ibu dan Anak?

Sewaktu belum nikah, saya mendambakan ingin nikah muda lalu cepat dikaruniai anak.
Bersyukur saya dikasih kepercayaan oleh Allah SWT dua bulan setelah menikah untuk hamil.
Menjalani proses kehamilan yang sangat minim trauma.
Proses melahirkan yang cepat dan berkesan.
Ah, indahnya!
**********
Hingga lima hari usia Gibran alhamdulillah perjalanan menyusui berjalan lancar . Hari ke-enam, entah apa penyebabnya tiba-tiba saja Gibran "mogok" direct breastfeeding (DB) alias menyusui langsung. Beberapa kali dicoba yang ada Gibran malah nangis menjerit. Akahirnya saat itu, saya pun langsung pumping ASI dan Gibran minum ASI melalui dot/botol. Sesungguhnya, ini sangat berlawanan dengan keinginan saya untuk kasih Gibran DB, dengan alasan agar ikatan saya dan Gibran semakin dekat.

Konon, anak laki-laki sangat kuat menyusuinya. Sebelum usia 1 bulannya, Gibran menyusui bisa setiap 1-2 jam sekali. Waktu tidur saya sangat berkurang karena saya harus pumping dan stok ASIP (ASI Perah) pun tidak ada, mau tidak mau setiap satu jam saya harus pumping. Oh iya, ditambah lagi saat itu saya masih pemulihan pasca alergi (eksim) yang saya alami hampir di seluruh tubuh saat usia kandungan 8 bulan hingga melahirkan. Jika saya merasa kegerahan dan berkeringat, maka bekas luka garukan dan gatel eksim akan menjadi perih. Jadi, waktu tidur sudah sangat berkurang dan badan perih jika kegerahan sehingga berujung pada emosi tidak stabil. Satu lagi, saat itu saya masih beradaptasi dengan keadaan baru yaitu dari wanita karir dan terbiasa pergi kesana-kemari bertemu teman-teman, kini menjadi ibu rumah tangga yang waktunya benar-benar dihabiskan di rumah.

Tiba-tiba menangis sendiri, kesal sendiri dan semua orang kena imbas dari rasa jenuh dan lelah saya. Mungkin saat itu saya mengalami baby blues juga.

Lalu, apa yg dilakukan suami saya?
Suami saya tidak banyak bicara, ya karena dia tahu kalau dia banyak bicara takutnya menyinggung emosi saya. Jadi, dia setiap pulang kerja selalu membawakan cemilan kesukaan saya, bisa dikatakan mood booster sekaligus ASI booster. Siang harinya, dia transfer uang jajan untuk saya belikan cemilan di siang hari melalui aplikasi ojek online.

Balik lagi ke permasalahan Gibran.
Berbagai sumber yang saya baca bahwa penggunaan dot/botol terlalu dini tidak baik untuk perkembangan bayi terutama untuk bagian mulut, rahang dan gigi. Saya dan suami memutuskan untuk membeli dan mencoba semua alternatif selain dot yaitu cup feeder, feeding spoon dan pipet. Peralatan tersebut kurang membantu karena Gibran jadi sering tersedak dan dia tidak sabaran, belum lagi tumpah-tumpah, akhirnya dia semakin menangis dan menjerit. Sempat saya memakai nipple shield, cara ini cukup berhasil. Gibran mau menyusui langsung dengan menggunakan nipple shield tapi tidak selalu.
Kemudian, saya memutuskan untuk ke dokter spesialis anak sekaligus ahli laktasi. Setelah diperiksa, baik saya maupun Gibran alhamdulillah keadaan kami baik. Bentuk puting saya normal, lidah gibran tidak tounge tie bahkan cara latch on Gibran juga sudah benar. Lantas, apa penyebabnya?

Tiba-tiba saya terdiam dan langsung berlinang air mata setelah dokter mengatakan "Ibu sepertinya kurang bonding dengan anak Ibu, Ibu belum mengambil hati anak Ibu."

Dalam hati saya bicara "apa iya? aku ini kan Ibunya. Aku sayang kok sama Gibran"
Ucapan dokter itu terus terngiang-ngiang di pikiran saya. Sepulang dari Rumah Sakit, jika menatap Gibran, saya menjadi merasa bersalah.

Ternyata memiliki seorang anak bukan sebatas suka dengan anak kecil, mengkhayal bisa jalan-jalan bersama suami dan bayi, antusias dalam memilih dan memberikan nama anak, semangat membeli segala perlengkapan bayi hingga berburu diskon sampai ke pameran terbesar perlengkapan ibu dan anak. Ada satu hal yang tidak saya sadari dan sifatnya sangat sederhana, ketulusan.

Saya akui dan sadar bahwa saya terlalu sibuk dengan emosi saya, terlalu egois. Tidak terpikirkan bahwa manusia kecil ini butuh ibunya. Ibunya adalah satu-satunya orang yang seharusnya bisa memahami dia dan tempat dia bergantung. Saya tidak memberikan afirmasi positif kepada anak pasca melahirkan. Saya lupa tentang itu. Perlahan-lahan, saya mencoba untuk melepas emosi dan ego saya. Saya mulai beradaptasi, saya belajar dan mencoba mendekati anak saya untuk mengambil hatinya.

Setelah shalat Idul Adha tahun 2017, seperti biasanya Gibran menangis jika ingin minta susu, saat itu saya malas untuk mengambil stok ASIP dan saya pun mencoba tanpa nipple shield . Saya hanya membujuk Gibran dan ternyata dia memperhatikan apa yang saya bicarakan, "Gibran, mau ya nenen langsung, lebih enak dan nyaman sayang, Gibran bisa sepuasnya minum sebanyak apapun semau Gibran, dan bisa kapan pun. Gibran engga perlu nunggu lama dan engga perlu merasa kesal. Mau ya sayang nenen langsung." Seketika Gibran langsung mau menyusui langsung. Saya dan suami langsung haru bahagia.

Tidak secepat ini prosesnya, sebelumnya saya telah mencoba berkali-kali mengatakan hal seperti itu pada Gibran tapi tanpa memaksa.

Pelajaran ini membuat saya menganggap bahwa keluarga adalah sebuah sekolah, menjadi orang tua harus terus belajar. Anak dapat menajdi guru untuk orang tuanya tapi tanpa menjadikannya mereka seperti "majikan".




Love,

Fitri "Mama Gibran"



Author

Fitri Nur Ardiantika Fitri Nur Ardiantika karena menjadi seorang Ibu harus meredam ego, emosi dan nafsu sendiri untuk kualitas hidup terbaik sang anak.

Post a Comment