Cerita Nenek Untuk Anak-Cucunya (Part 1)

Bismillahirahmanirrahim

Hari pertama di tahun 2019

Saya menghabiskannya bersama keluarga di rumah. Kumpul bersama kedua orang tua, suami, anak, kakak, tante, sepupu dan juga keponakan. Pada tanggal 31 Desember 2018, kami sudah berkumpul bersama dengan berbincang, bercanda sambil membakar ayam dan ikan, makan besar bersama keluarga besar. 

Sebenarnya saya bingung mau memasukkan tulisan saya ini ke subbagian "Family"  atau buat sub sendiri lagi atau mungkin membangun blog terpisah lagi? hmmm... mungkin untuk sementara ini akan saya masukkan ke dalam subbagian "family".

"Kenapa hal ini saja dibuat bingung? jelas bisa masuk ke subbagian "family" karena bercerita tentang berkumpul bersama keluarga di tahun baru."

Kali ini bukan tentang waktu kumpul bersama keluarga atau #ceritaiban atau pengalaman dan ilmu selama merawat anak. Tapi tentang cerita yang diceritakan oleh nenek saya dan yang baru diketahui oleh saya, kakak saya, sepupu saya bahkan mama saya dan tante saya yang mana mereka adalah anaknya nenek saya, seharusnya sudah lebih tahu cerita ini. Cerita mengenai uwa saya, hmmm keponakannya nenek saya, hmmm kalau di bahasa sunda disebutnya "uwa", mungkin bahasa jawa disebutnya bude? (boleh diralat jika saya salah). Uwa, mungkin artinya adalah kakak dari ayah atau ibu kita. Ya jadi ini adalah cerita tentang keponakan nenek saya, sepupunya Mama saya, dan entah bagaimana sejarahnya hingga generasi saya, beliau dan yang lainnya disebut"uwa".

Cerita ini menurut kami sangat menarik dan cukup membuat kami terkejut. Berawal dari kami yang sedang bercerita saat malam tahun baru ada film "Pengabdi Setan" diputar di salah satu stasiun televisi swasta. Lalu, nenek saya meminta untuk diceritakan tentang film itu dan dijelaskanlah oleh kakak saya. Keluarga saya beragama muslim, kami hanya percaya pada 1 Tuhan yaitu Allah SWT dan 1 kitab suci yaitu Al-Quran. Intinya, keluarga kami (yang saya ketahui dari silsilah keluarga mulai dari nenek dan kakek ditarik lurus ke bawah hingga generasi saya) hidup lurus-lurus saja. Maksudnya, kami tidak percaya atau bahkan "bermain" kepada dukun. Tapi ternyata, di generasi Mama saya dan sepupunya ada yang mengalami hal yang berhubungan dengan dukun dan jin. Kami percaya dengan jin, setan dan iblis karena di Al-Quran pun tertulis bahwa Allah SWT menciptakan makhluk gaib yang disebut jin, iblis dan setan untuk menggoda keimanan dan ketaqwaan manusia. 

Perlu saya informasikan terlebih dahulu, cerita ini berdasarkan kisah nyata yang dialami "uwa" saya. Namun, nama dalam tokoh-tokoh cerita ini saya samarkan ya, tepatnya menggunakan nama palsu (mohon maaf bila namanya ada yang kebetulan sama, tidak ada maksud buruk apapun).

Sekitar tahun 1963

Maryati, perempuan berusia 28 tahun yang bekerja di perusahaan negara bidang logistik, tinggal di Jakarta karena bekerja di Jakarta, asalnya sendiri dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Karirnya yang bagus mengantarkan ia hingga memiliki jabatan di perusahaan. Sayangnya, kehidupan asmaranya tidak semulus kehidupan karirnya. Maryati pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan pria untuk dinikahkan tapi selalu kandas di tengah jalan sebelum menuju pelaminan. Perempuan berdarah sunda ini dikenal dengan sosok yang lemah lembut, pendiam dan mudah percaya dengan orang.

Hingga suatu saat, Maryati dipanggil oleh keluarganya ke Tasikmalaya untuk diperkenalkan kepada seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahun yang berasal dari Bandung. Pria itu ialah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Bandung, bernama Salidi.

Salidi dikenal sebagai sosok pria yang cerdas, pekerja keras dan sedikit bicara. Kisah asmaranya juga mirip dengan Maryati. Namun, ada hal yang membuat Maryati ingin menikahi Salidi yaitu Salidi merawat dan membesarkan seorang anak Yatim Piatu bernama Deden. Maryati menilai jika Salidi adalah sosok laki-laki bijaksana, soleh dan pintar.

Nampaknya sempurna dan tepat ya pasangan ini jika dilihat dari sisi karir mereka. Kehidupan mapan mereka sudah dapat dibayangkan. Mungkin dalam islam, istilahnya taaruf. Maryati dan Salidi memiliki waktu yang sedikit untuk mengenal lebih dalam satu sama lain. Mereka menikah tanpa menjalani masa pacaran.

Sesungguhnya ada seseorang yang tidak menyetujui Maryati menikah dengan Salidi yaitu Aki Sukarta, Kakek dari Maryati. "Sebaiknya Maryati tidak menikahi Salidi, dia bukan lelaki yang tepat.  
Sesuatu yang buruk bisa terjadi kalau Maryati menikahi Salidi atau mempertahankan pernikahannya.". 

Amanat dari sang kakek ternyata tidak diindahkan oleh orang tuanya Maryati, Yeyen dan Yeti. Maryati dan keluarganya semakin hari semakin disibukkan dengan persiapan pernikahan, bolak-balik Jakarta-Tasik-Bandung terkadang dengan kereta dan terkadang diantar dengan mobil dinas bersama supirnya yang ia dapat dari jabatannya.

Hari pernikahan pun tiba

Mereka akhirnya melangsungkan akad nikah setelah 3 bulan saling mengenal meskipun tidak terlalu saling mengenal lebih dalam. Taaruf dalam ajaran islam sebenarnya sangat disarankan untuk menuju pernikahan dan mencegah dosa. Selama waktu mengenal Salidi, Maryati hanya tahu profesi dan karakter Salidi, dia tidak tahu masa lalu Salidi terlalu dalam.

Saat akad nikah akan berlangsung, seharusnya ini menjadi saat yang paling khusyuk karena para malaikat akan menyaksikan langsung dan proses ijab qabul akan menggetarkan surga Allah SWT.
Baiklah, untuk hal malaikat yang menyaksikan langsung hingga surga Allah bergetar kita serahkan semuanya kepada Allah SWT. Tapi yang dapat dilihat dan dirasakan oleh Maryati dan dilihat oleh seluruh keluarga adalah hal yang tidak biasanya terjadi saat akad nikah.

"Apa ini? seperti suara langkah kaki pasukan kuda. Siapa yang menyiapkan pasukan kuda dekat rumah? apa kuda-kuda itu jadi bagian dari acara pernikahanku?" ucap Maryati dalam hati sambil mengerutkan dahinya dan melirik ke arah keluarganya.

"Apa hanya aku yang dengar? kenapa yang lainnya terlihat tenang?" Maryati pun langsung menarik napas dan berpikir mungkin ia hanya salah dengar "Huff, Bismillah YaAllah."

"Saya terima nikah daaan..." ucap Salidi dengan suaranya yang tiba-tiba bergetar.

Semua mata pun tertuju pada Salidi dengan heran.

"Tarik napas dulu kang Salidi. Tenang dan bismillah." ucap penghulu

"Saya terima nikah dan kawinnya..." Badan Salidi semakin bergetar dan berkeringat saat mengucapkan ijab qabul yang kedua dan ketiga kalinya.

"Sudah tiga kali ya Kang Salidi mengulang Ijab Qabul. Saya kasih kesempatan terakhir sekali lagi.Bagaimana para saksi? ucap penghulu. "Setuju" jawab para saksi.

Dengan tubuhnya yang bergetar dan berkeringat, Salidi berhasil mengucap kalimat Ijab Qabul yang terakhir. Seluruh keluarga berpikir kalau Salidi hanya gugup. "Mungkin saking pinternya dan sedikit bicara, sekalinya bicara sampe gemetaran bgtu ya." bisik seorang bapak kepada tamu lainnya.

Setelah kalimat ijab qabul selesai terucap dan sementara yang lainnya merasa lega dan ucap syukur, Maryati mendengar hal yang aneh lagi dan benar-benar membuat dia semakin heran, yaitu suara ringkikan kuda.

Setelah acara pernikahan selesai, Maryati dan Salidi pindah ke Jakarta karena Maryati bekerja di Jakarta dan Salidi pindah mengajar di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Pernikahan Maryati dan Salidi semenjak awal sudah mengalami kejanggalan. Maryati masih memikirkan tentang suara ringkikan kuda dan langkah kaki pasukan kuda saat Ijab Qabul. Ditambah lagi hal aneh yang serupa terjadi lagi saat mereka sudah menikah.

Setiap Maryati dan Salidi melakukan hubungan suami istri, Maryati selalu mendengar suara ringkikan kuda dan langkah kaki pasukan kuda. Bukan hanya itu, Maryati juga melihat beberapa kuda hitam besar sedang meringkik dan terlihat seperti kuda marah. Seketika Maryati langsung mengucap istighfar dan menolak untuk melanjutkan kewajibannya sebagai seorang istri terhadap suami.

Tidak tahan dengan suara dan langkah kaki kuda yang kerap menghampirinya setiap sedang melayani sang suami, Maryati pun menceritakan peristiwa ini kepada Bibinya yang tinggal di Jakarta, Bibi Eulis. Bibi Eulis pun terkejut mendengar ceritanya dan segera melaporkannya kepada orang tua dan kakek dari Maryati.

Kemudian, Maryati dan Salidi dipanggil oleh keluarga besar Maryati. Di waktu itu, Salidi menceritakan masa lalunya yang sangat membuat keluarga besar Maryati terkejut dan tidak pernah disangka oleh mereka. Aki Sukarta pun sudah menduganya.

"Singkat cerita, saya pernah menikah dengan jin berwujud seorang gadis. Perbuatan saya ini saya lakukan karena saya sudah merasa putus ada mengapa tidak ada yang mau saya nikahi kemudian saya pergi ke dukun menyampaikan keinginan saya, dengan diberi 1 syarat, yaitu saya bisa menikah dengan seorang perempuan tapi saya harus menikahi jin terlebih dahulu. Tanpa berpikir panjang, tanpa akal sehat dan tanpa iman kepada Allah SWT saya menyanggupi syarat itu."

"...yang diceritakan Maryati itu benar. Yang dia alami pun memang benar adanya. Langkah kaki pasukan kuda, suara kuda meringkik sampai wujud kuda hitam besar, mereka semua itu adalah pasukan jin yang diutus oleh jin yang saya nikahi dulu. Mereka tidak ingin saya menikah dengan seorang manusia.Maka dari itu, mereka selalu mengganggu kehidupan rumah tangga kami." ungkap Salidi dengan penuh kepasrahan.

"Bisakah kamu sekarang mentalak cucuku?" tanya Aki Sukarta

Semuanya kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba saja keluar dari mulut Aki Sukarta, seluruh keluarga termasuk Maryati pun tidak bisa berbuat banyak, karena perasaan dan dugaan Aki sudah terbukti. Perbuatan Salidi ini sudah sangat bertentangan dengan prinsip keluarga besar Maryati. Pada akhirnya mereka pun bercerai.

Maryati kembali menjalani kehidupannya dan melanjutkan karirnya, sedangkan Salidi beberapa bulan setelah perceraiannya dengan Maryati bertolak ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya dan mengambil gelar professor. Saat itu, Maryati dan Salidi sudah tidak ada komunikasi. Maryati baru tahu kabar terkahir Salidi dari keluarga yang masih kerabat dengan keluarga Salidi, yaitu Salidi telah meninggal dunia di Amerika karena ditembak dan saat ini masih belum terungkap siapa pelakunya dan bagaimana kronologisnya.

Jenazah Salidi lebih dari 24 jam diterbangkan dari Amerika menuju Indonesia yang kemudian dimakamkan di Bandung. Maryati bersama keluarganya turut mengantar Salidi hingga ke peristirahatan terakhirnya. Lagi, peristiwa yang serupa beberapa tahun silam didengar lagi oleh Maryati tapi kali ini juga didengar oleh para pelayat, suara langkah kaki pasukan kuda yang seolah-olah entah mengaantar atau menjemput Salidi. Pemakaman Salidi tidak berlangsung normal, seolah-olah jenazahnya ditolak oleh bumi, tanah kuburnya sudah digali tetapi tidak cukup juga dengan tubuh Salidi, sekalinya cukup hujan petir terjadi di pemakaman Salidi.

"ASTAGFIRULLAH, ALLAH AKBAR" seru seluruh pelayat. Ustadz pun membantu menenangkan semua pelayat dan mengingatkan bahwa tugas dan kewajiban bagi orang yang masih hiduplah yang menguburkan orang meninggal hingga selesai. Diantara pelayat hadirlah Deden, anak yatim piatu yang dirawat oleh Salidi, yang sudah beranjak menjadi pria dewasa dan merawat 7 anak yatim-piatu.

"Abah Salidi orang yang baik sebenarnya, sangat baik, beliau merawat saya dan menyayangi saya hingga saya berhasil dan kembali meneruskan amalan beliau yaitu merawat,mendidik dan menyayangi anak yatim-piatu. Mari kita mendoakan beliau, kita minta segala dosanya diampuni Allah SWT dan amalannya diterima Allah SWT, dijauhkan dari azab kubur, dilapangkan dan diterangkan alam kuburnya, aamiin." ucap Deden sambil terisak-isak.

"Masya Allah, Allah Akbar" ucap para pelayat setelah menyaksikan jenazah dimasukkan ke dalam liang kubur dengan lancar.

Author

Fitri Nur Ardiantika Fitri Nur Ardiantika karena menjadi seorang Ibu harus meredam ego, emosi dan nafsu sendiri untuk kualitas hidup terbaik sang anak.

Post a Comment