Setelah Menikah, Lebih Baik KPR atau Tinggal Bersama Orang Tua?

"Setelah menikah lebih baik mengontrak rumah daripada tinggal bersama orang tua"

"KPR rumah gih daripada tinggal sama orang tua atau mertua, keburu harga rumah semakin mahal loh!"



Pernyataan seperti itu sering sekali saya dengar dari banyak orang saat sedang merencanakan pernikahan. Sempat saya bersama calon suami (dulu sekaramg sudah jadi suami) berburu rumah KPR di property expo tahunan. Selama dua tahun berturut-turut kami selalu datang ke property expo. Berbagai model, ukuran dan promosi rumah hingga apartemen di expo tersebut sangat menggiurkan untuk kaum urban dan pasangan milenial yang hendak merencanakan pernikahan. Bagaimana tidak? para developer sangat menggoda dalam memberikan promosi khususnya DP dalam membeli unit rumah atau apartemen mereka. Promosinya tidak tanggung-tanggung bahkan ada yang DP 0%.

Tahun pertama kami mengunjungi property expo, jujur kami sangat tergoda, bahkan sempat memberikan booking fee sebesar Rp. 1.000.000 dan booking fee tersebut tidak dapat dikembalikan jika kami tidak jadi membeli rumah itu atau setidaknya memberikan DP. Beberapa hari setelah membayar booking fee, kami survei lokasi perumah. Ternyata, lokasi perumahan dan konstruksi bangunannya tidak sesuai dengan rencana dan harapan kami. Selain itu, skema angsurannya pun lumayan besar, setidaknya kami harus punya gaji minimal Rp. 20.000.000 (gaji suami-istri digabung) dalam sebulan untuk dapat membayar KPR dan memenuhi kebutuhan hidup. Maklum, kami pendatang baru dalam berburu properti jadi kami harus banyak mencari tahu dan kehilangan uang Rp. 1.000.000 :')

Tahun berikutnya kami datang kembali di properti expo yang sama. Kali ini kami datang tidak dengan ambisi untuk membeli rumah atau apartemen secara KPR tapi kami lebih kepada riset! Riset berapa kisaran harga rumah di Jakarta dan pinggiran Jakarta, ukuran baik dari luas tanah dan luas bangunan, material konstruksinya, lokasi dan akses perumahan atau hunian, hingga skema angsuran KPR. 




Mengapa kami riset? karena kami sedang menyusun rencana keuangan dan hidup setelah pesta pernikahan alias setelah kami resmi menjadi suami istri. Rata-rata skema angsuran KPR memiliki tenor atau jangka waktu yang cukup lama, sekitar 15 tahun bahkan hingga 30 tahun. Kami pun tercengang begitu tahu tenor angsuran KPR. Dari mulai baru menikah hingga punya anak dan anak akan menikah lagi, KPR baru selesai alias lunas. Ya kalau diberikan umur panjang, kalau tidak? Mau meninggal dengan hutang dan riba. Riba? ya KPR memiliki bunga yang cukup tinggi, umumnya 5% -7% tergantung suku bunga BI saat itu. Sebenarnya harga rumah tidak akan terlalu tinggi jika tidak ada bunganya. Tapi mau bagaimana lagi, kredit ya sudah pasti kebanyakan ada bunganya. Tidak mau riba karena bunga KPR ya bayar cash alias tunai! Tidak punya atau belum terkumpul uang tunai? jangan memaksakan. Bukan berarti saya melarang KPR, itu pilihan dan hak setiap orang tapi selagi cash flow keuangan keluarga aman terkendali.


Itulah kondisi kami, belum terkumpul uang tunai sebesar itu. Pada akhirnya kami memutuskan untuk mengontrak rumah di daerah Jakarta Selatan. Lokasi yang sangat strategis dan dekat dengan kantor saya dan suami. Kami mengontrak selama 3 bulan dengan biaya kontrakan Rp. 2.000.000/bulan. Saat itu saya masih bekerja, pendapatan keluarga kecil kami datang dari dua pintu. Setelah 2 bulan menikah, kami dikaruniai rezeki berupa kehamilan saya dan suami memutuskan kembali melanjutkan kuliah setelah cuti selama satu semester. Berbagai pertimbangan kami pikirkan dengan matang bila kami masih melanjutkan mengontrak rumah, terutama dari segi biaya dan lingkungan anak. Pada akhirnya kami memutuskan untuk ikut tinggal bersama orang tua saya. Karena beberapa alasan dan ternyata memberikan keuntungan baik untuk kami dan orang tua :


  1. Orang tua yang sudah semakin tua, sakit-sakitan dan sudah pensiun. Mereka membutuhkan teman, pelindung dan hiburan dalam kesehariannya.
  2. Kami bisa menitipkan anak pada orang yang terpercaya jika kami terutama saya ada keperluan pekerjaan. 
  3. Kami dapat memindahkan cash-flow "kontrakan" menjadi gaji ART dan belanja bulanan. ART bertugas untuk membersihkan rumah, karena anak saya full yang pegang dan orang tua sudah tidak sanggup untuk membersihkan rumah. 
  4. Setiap bulannya kami tidak perlu stress dengan tagihan KPR (saya belum kuat mental kalau harus lihat tagihan kredit, hidup engga tenang rasanya). 
  5. Memiliki waktu untuk menabung guna membeli rumah sendiri tanpa KPR.


Memang ada plus minus tinggal bersama orang tua atau mertua, tapi hanya bersifat sementara kok. Jadi, bila kondisi keluarga terutama secara keuangan belum aman tidak ada salah untuk tinggal bersama orang tua. "Apa kata orang nanti?" cuek saja, kan kita yang menjalani kehidupan, punya kehidupan maisng-masing dengan segala permasalahannya. Kecuali, kalau mereka mau membiayai hidup dan menemani orang tua, mau menjaga anak kita dan mau membelikan kami rumah. Mantap! :)




Love,
-FNA-

Author

Fitri N Ardiantika Fitri N Ardiantika karena menjadi seorang Ibu harus meredam ego, emosi dan nafsu sendiri untuk kualitas hidup terbaik sang anak.

Post a Comment